Ijazah Udah Nggak Relevan? 3 Alasan Kenapa Perusahaan Kini Lebih Pilih Kandidat dengan Portofolio daripada Gelar
Uncategorized

Ijazah Udah Nggak Relevan? 3 Alasan Kenapa Perusahaan Kini Lebih Pilih Kandidat dengan Portofolio daripada Gelar

Gue inget banget, 5 tahun lalu gue wisuda. Pake toga, foto-foto, peluk orangtua. Semua bilang: “Selamat! Sekarang tinggal cari kerja, gampang, udah punya gelar.”

3 bulan kemudian, gue masih nganggur. 6 bulan, masih nganggur. Kirim lamaran ke mana-mana, ditolak terus. Yang bikin frustrasi: banyak temen gue yang nggak kuliah—bahkan ada yang drop out—justru lebih cepat dapet kerja. Dan kerjaannya bagus-bagus.

Waktu itu gue mikir: “Apa yang salah sama gue? Apa yang salah sama ijazah gue?”

Sekarang, setelah kerja di beberapa tempat dan ngobrol sama banyak HRD, gue baru paham. Nggak ada yang salah sama ijazah gue. Yang salah adalah cara pandang gue—dan mungkin juga cara pandang lo—tentang fungsi ijazah itu sendiri.

Di 2026 ini, pergeserannya makin kentara. Banyak perusahaan besar udah nggak lagi jadikan ijazah sebagai syarat utama. Mereka lebih lihat portofolio. Bukti nyata. Hasil karya. Bukan secarik kertas yang bisa dibeli di kampus mana pun.

Kenapa bisa begitu? Dan yang lebih penting: terus gue yang udah susah payah kuliah, apa ijazah gue jadi nggak berguna?

Jawabannya: nggak juga. Tapi lo harus tahu posisinya.


Data yang Bikin Melongo

Sebelum masuk ke alasan, gue kasih data dulu. Biar lo nggak mikir ini caca.

  • Survei LinkedIn 2025: 72% rekruter di Asia Tenggara lebih memprioritaskan portofolio dan pengalaman praktis daripada gelar akademis .
  • Google, Apple, IBM: Udah bertahun-tahun nggak mewajibkan gelar sarjana buat banyak posisi. Mereka punya program sertifikasi internal sendiri .
  • Di Indonesia: Startup unicorn seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka udah lama buka lowongan tanpa syarat IPK minimal. Yang penting bisa ngerjain .
  • Data BPS 2026: Pengangguran terbanyak justru dari lulusan universitas. 9% lulusan S1 nganggur, sementara lulusan SMK cuma 6% .

Artinya? Gelar bukan jaminan. Iya, lo baca bener. Bukan jaminan.


3 Alasan Kenapa Perusahaan Lebih Pilih Portofolio

1. Portofolio Bicara “Bisa”, Ijazah Cuma Bicara “Pernah Belajar”

Ini perbedaan fundamental.

Ijazah bilang: “Saya pernah belajar ini selama 4 tahun. Saya lulus ujian. Saya dapat nilai A di mata kuliah ini.” Tapi dia nggak bilang: “Saya bisa bikin website.” Atau “Saya bisa nulis artikel SEO.” Atau “Saya bisa bikin ilustrasi keren.”

Portofolio bilang: “Ini hasil kerja saya. Ini masalah yang pernah saya selesaikan. Ini bukti.”

Bayangin lo HRD. Lo punya dua kandidat:

  • Kandidat A: IPK 3,8, cum laude, dari kampus ternama. Tapi nggak punya portofolio.
  • Kandidat B: IPK 2,9, kampus biasa. Tapi punya portofolio berisi 10 website yang dia bikin sendiri, dengan testimoni klien.

Siapa yang lo pilih? (Gue tahu jawabannya.)

Studi kasus #1: Temen gue, Andi, lulusan DKV dari kampus swasta biasa. IPK-nya 2,8. Tapi dia rajin nge-post karya di Behance dan Instagram. Desainnya keren-keren. Suatu hari, ada HRD dari startup besar DM dia: “Minat kerja di sini? Kami lihat portofoliomu.” Tanpa ngirim lamaran formal, tanpa tes, dia langsung diterima.

Gelar? Cuma formalitas. Yang dilihat: karyanya.


2. Ijazah Sering Nggak Ngikutin Perkembangan Zaman

Kurikulum kampus itu lambat. Sangat lambat. Butuh waktu bertahun-tahun buat revisi kurikulum. Sementara dunia kerja—terutama di bidang teknologi dan kreatif—berubah tiap bulan.

Gue ambil contoh: 4 tahun lalu, SEO (Search Engine Optimization) itu ilmunya masih sederhana. Sekarang, dengan kehadiran AI dan perubahan algoritma Google, ilmunya udah beda total. Apakah kampus ngajarin itu? Mungkin nggak.

Atau contoh lain: 4 tahun lalu, Figma belum sepopuler sekarang. Banyak kampus masih ngajarin Adobe XD atau bahkan Photoshop buat desain UI/UX. Lulusan baru harus belajar ulang.

Studi kasus #2: Rina lulusan S1 Komunikasi. Di kampus, dia belajar bikin press release, teori jurnalistik, etika media. Tapi pas kerja di startup, yang diminta: bikin konten TikTok, manage influencer, analisis data engagement. Nggak satu pun diajarkan di kampus.

Untungnya, Rina punya portofolio: akun TikTok pribadinya yang punya 50 ribu followers. Itu bukti dia paham algoritma. Itu yang bikin dia diterima.


3. Portofolio Nunjukin Konsistensi dan Passion

Orang bisa dapet ijazah dengan cara apa aja. Bisa dengan sistem SKS, bisa dengan “ngebut” di akhir semester, bisa juga dengan… yaudah. Tapi portofolio? Dia nunjukin perjalanan.

Lihat portofolio seseorang, lo bisa lihat:

  • Apakah dia konsisten?
  • Apakah dia berkembang?
  • Apakah dia punya passion di bidang itu?

Misalnya, portofolio seorang fotografer. Lo bisa lihat foto-foto dia dari tahun ke tahun. Ada perkembangan gaya, teknik, dan sudut pandang. Itu nunjukin dia beneran cinta sama fotografi, bukan cuma ikut-ikutan.

Studi kasus #3: Bayu lulusan Teknik Informatika. Tapi dia males ngoding. Pas kuliah, nyontek sana-sini. Lulus dengan IPK lumayan. Tapi pas interview kerja, ditanya: “Punya proyek apa?” Dia diem. Nggak punya. Akhirnya nggak diterima.

Sebaliknya, Dika lulusan SMA, nggak kuliah. Tapi dia rajin ngikutin course online, bikin proyek-proyek kecil, dan nge-post di GitHub. Sekarang dia kerja sebagai front-end developer di perusahaan teknologi. Gajinya 3 kali lipat UMR.

Ijazah Dika? Cuma SMA. Tapi portofolionya? Bicara.


Tabel Perbandingan: Ijazah vs Portofolio

AspekIjazahPortofolio
Apa yang dibuktikanPernah belajarBisa melakukan
Relevansi dengan industriSering ketinggalan zamanBisa di-update terus
Waktu pembuatan3-4 tahun (minimal)Bisa mulai dari sekarang
BiayaPuluhan hingga ratusan jutaBisa gratis (modal internet)
Nilai jualDiakui institusiDiakui pasar
FleksibilitasKaku (harus sesuai jurusan)Bebas (bisa lintas bidang)
KetergantunganPada kurikulum kampusPada inisiatif diri

3 Hal yang Bisa Lo Lakukan (Biar Nggak Ketinggalan)

Nah, buat lo yang fresh graduate atau masih kuliah, ini saatnya action. Bukan berarti lo harus berhenti kuliah. Tapi lo harus nambahin value di luar ijazah.

1. Bikin Portofolio, Sekarang Juga

Nggak perlu nunggu sempurna. Mulai aja dulu. Punya akun Instagram buat nge-post desain? Itu portofolio. Punya akun Medium buat nulis artikel? Itu portofolio. Punya GitHub isi proyek coding? Itu portofolio.

Yang penting: konsisten. Posting rutin. Tunjukin proses, bukan cuma hasil akhir. Karena orang pengen lihat perjalanan lo.

Tips praktis:

  • Pilih platform yang sesuai bidang lo (Behance buat desainer, GitHub buat programmer, Medium buat penulis, LinkedIn buat semua)
  • Upload karya terbaik, minimal 5-10
  • Tulis deskripsi singkat: latar belakang, proses, tantangan, hasil
  • Update setiap kali ada karya baru

2. Ikut Course dan Dapet Sertifikat (yang Diakui Industri)

Kuliah formal itu penting. Tapi nggak cukup. Lo perlu nambah skill yang relevan sama industri sekarang.

Sekarang banyak platform yang nawarin course dengan sertifikat yang diakui perusahaan:

  • Google Career Certificates (IT Support, UX Design, Data Analytics)
  • Meta Professional Certificates (Social Media Marketing)
  • IBM Data Science
  • Coursera, Udemy, Dicoding (banyak pilihan)

Harganya? Mulai dari gratis sampai beberapa juta. Jauh lebih murah daripada SKS di kampus.

Data: Survei dari Coursera nunjukkin bahwa 87% lulusan kursus online merasa terbantu dalam mencari kerja atau promosi .

3. Internship atau Freelance (Biar Ada Pengalaman Nyata)

Ini paling penting. Karena pengalaman nyata nggak bisa digantikan teori.

Cari internship di bidang lo. Atau mulai freelance. Ambil proyek kecil-kecil dulu. Yang penting ada hasil yang bisa dimasukkin ke portofolio.

Kalau susah cari klien, lo bisa:

  • Bikin proyek fiktif (misalnya: redesign website fiktif)
  • Ikut kompetisi (lomba desain, hackathon, lomba nulis)
  • Volunteer (bantu organisasi nirlaba bikin website atau konten)

Studi kasus: Temen gue, Wulan, anak Psikologi. Dia pengen kerja di HR. Tapi fresh graduate susah saingan. Dia mulai freelance bantu UMKM bikin tes psikologi sederhana buat rekrut karyawan. Hasilnya? Portofolio dia unik dan beda. Sekarang dia kerja di startup sebagai HR Specialist.


Jadi, Ijazah Udah Nggak Berguna Sama Sekali?

Nggak gitu juga.

Ijazah masih punya fungsi. Terutama di:

  • Instansi pemerintah (masih wajib)
  • BUMN (masih jadi syarat utama)
  • Profesi tertentu (dokter, pengacara, arsitek, guru—harus punya lisensi resmi yang basisnya pendidikan formal)
  • Perusahaan besar tradisional (masih pake ijazah sebagai filter awal)

Tapi di banyak perusahaan teknologi, startup, industri kreatif, media, dan bisnis modern lainnya, ijazah cuma formalitas. Yang penting lo bisa.

Jadi, pesan gue: jangan andelin ijazah doang. Ijazah itu tiket masuk. Tapi portofolio itu yang nentuin lo duduk di mana.


3 Kesalahan Umum Fresh Graduate

Biar lo nggak gagal di awal karir, hindari ini.

Kesalahan #1: Ngerasa Cukup dengan Ijazah

“Udah, gue kuliah 4 tahun, IPK 3,5, pasti gampang cari kerja.” Salah besar. Dunia kerja nggak peduli IPK lo kalau lo nggak bisa ngerjain apa-apa.

Kesalahan #2: Nggak Pernah Bikin Portofolio

“Ah, gue belum punya karya.” Ya bikin dong. Nggak akan punya kalau nggak mulai. Mulai dari proyek kecil, dari tugas kuliah, dari eksperimen pribadi.

Kesalahan #3: Ngeremehin Skill Non-Akademis

Soft skill kayak komunikasi, kerja tim, manajemen waktu, itu penting banget. Tapi banyak fresh graduate nggak punya bukti. Ikut organisasi, volunteer, atau freelance bisa jadi bukti lo punya soft skill.


Bukan Ijazahnya yang Salah, Tapi Cara Pandang Kita

Gue mau balik ke pertanyaan awal: apakah ijazah udah nggak relevan?

Jawaban gue: tetap relevan, tapi nggak cukup.

Ijazah itu bukti lo punya ketekunan menyelesaikan pendidikan formal. Itu penting. Tapi di era di mana informasi bisa diakses siapa aja, di mana skill bisa dipelajari online gratis, perusahaan butuh lebih dari sekadar bukti “pernah belajar”.

Mereka butuh bukti “bisa”.

Jadi, jangan salahin ijazah lo. Tapi ubah cara pandang lo. Lihat ijazah sebagai fondasi, bukan sebagai satu-satunya modal. Bangun di atasnya dengan portofolio, pengalaman, dan skill yang relevan.

Lo yang kuliah 4 tahun, lo punya dasar teori yang kuat. Itu modal. Tapi kalau nggak dibarengi praktik, dasar itu cuma jadi… dasar. Nggak berkembang.

Sementara mereka yang nggak kuliah tapi rajin bikin portofolio, mereka punya rumah di atas tanah kosong. Mungkin kokoh, mungkin nggak. Tapi setidaknya mereka punya sesuatu yang bisa dilihat.

Lo bisa punya dua-duanya: fondasi kuat dari kuliah, plus rumah megah dari portofolio.

Nah, itu baru keren.


Jadi, Lo Mau Mulai dari Mana?

Gue nggak bisa jawab itu buat lo. Tapi gue bisa kasih pertanyaan balik:

Apa bidang yang lo mau? Desain? Coding? Nulis? Marketing?

Terus, apa proyek pertama yang bisa lo kerjain minggu ini? Bikin logo? Bikin website sederhana? Nulis artikel? Bikin akun medium?

Nggak perlu sempurna. Mulai aja. Karena portofolio itu bukan tentang “jadi”, tapi tentang “proses”. Dan proses itu harus dimulai.

Gue sendiri dulu nggak punya portofolio. Gue cuma nulis di blog pribadi, nggak jelas temanya. Tapi dari tulisan-tulisan itulah, ada orang yang nawarin kerja. Dan dari situ, gue belajar: karya lo bisa bicara lebih keras daripada ijazah.

Sekarang giliran lo.


Gue penasaran, nih. Di antara lo yang baca, ada yang udah punya portofolio? Atau masih bingung mau mulai dari mana? Share di kolom komentar. Siapa tahu dari situ kita bisa saling bantu, saling kasih ide. Karena di dunia yang makin kompetitif ini, kita butuh lebih dari sekadar gelar. Kita butuh karya.

Anda mungkin juga suka...